Music arrangement :
DAW : FL Studio 12
Instrument Plugin :
- Slayer 2
- Boobass
- Ezdrummer 2
Mastering : Izotope Ozone 4
Dear Elly,
Istriku yang jenong...
Teman hidup yang belakangan berat badannya kian bertambah...
Ibu dari buah hatiku...
Selamat ulang tahun ya...
Semoga sehat dan bahagia selalu...
Semoga semakin sabar menghadapi aku...
Semoga selalu menjadi ibu yang baik buat Kila dan adiknya (belum ada sih... tapi secepatnya kalo bisa kita adain ya... hehehe)
Maaf aku nggak bisa romantis seperti harapanmu...
Aku juga nggak bisa ngasih kamu apa-apa kecuali doa...
Tapi aku yakin kamu pasti tau betapa sayangnya aku sama kamu kan?
Sekali lagi... SELAMAT ULANG TAHUN YA SAYANG...
Istriku yang jenong...
Teman hidup yang belakangan berat badannya kian bertambah...
Ibu dari buah hatiku...
Selamat ulang tahun ya...
Semoga sehat dan bahagia selalu...
Semoga semakin sabar menghadapi aku...
Semoga selalu menjadi ibu yang baik buat Kila dan adiknya (belum ada sih... tapi secepatnya kalo bisa kita adain ya... hehehe)
Maaf aku nggak bisa romantis seperti harapanmu...
Aku juga nggak bisa ngasih kamu apa-apa kecuali doa...
Tapi aku yakin kamu pasti tau betapa sayangnya aku sama kamu kan?
Sekali lagi... SELAMAT ULANG TAHUN YA SAYANG...
![]() |
| Image by publicdomainpictures.net |
Apa kabar? Kamu baik-baik saja kan di situ? Ya aku rasa begitu, bagimu tanpa adanya aku keadaanmu akan jauh lebih baik bukan?
Aku harap kamu tidak shock saat membaca coretan dariku ini, sepeti ketika pertama kali dulu aku tahu bahwa selama ini kamu hanyalah seseorang yang cuma memberiku harapan yang kosong. Ternyata kedekatan kita yang selama ini yang aku anggap sebagai kedekatan antara dua orang yang saling jatuh cinta, di matamu kau anggap hanyalah sebagai kedekatan antara dua orang sahabat setia, tidak lebih.
O iya, ngomong-ngomong tidakkah kamu ingin tahu dengan keadaanku sekarang ini? Oke… Baiklah, aku sudah tahu jawabanmu.
Masih ingatkah kamu pada malam di mana aku harus mendengar jawaban yang sama sekali tidak ingin kudengar darimu itu? Malam di mana tiba-tiba semuanya menjadi berubah jauh dari apa yang aku sudah bayangkan sebelumnya. Asal kamu tahu, aku tak akan pernah bisa lupakan itu. Sampai sekarang, genap sewindu sudah. Waktu memang cepat sekali berlalu ya? Tidak seperti kamu yang masih saja terus setia mengitari pikiranku.
Sewindu, seharusnya waktu yang cukup untuk bisa membuat aku lupa denganmu, atau setidaknya membuat aku bisa melupakan perasaan yang pernah ada untukmu. Tapi tidak, waktu yang berlalu tersebut ternyata tidak pernah sanggup mengajari aku untuk bisa mengerti kenyataan bahwa kamu tak akan pernah bisa untuk membalas semua perasaaanku ataupun mengajari aku cara bagaimana agar aku bisa untuk melupakanmu. Entah, mungkin akunya yang terlalu bodoh untuk diajari oleh waktu, atau mungkin malah akunya saja yang memang malas untuk mempelajari cara untuk melupakanmu, dan lebih memilih berharap pada keajaiban yang siapa tahu akan mengubah pikiranmu.
Aku tahu di luar sana banyak perempuan cantik yang melebihimu, kenapa tidak aku cari yang lain saja? Seperti yang pernah kamu sarankan. Tapi masalahnya aku sendiri sampai saat ini tidak mengerti kenapa aku bisa menjadi seperti orang buta begini, yang terlihat di mataku cuma kamu. Lagi pula perempuan cantik di luar sana bukanlah KAMU.
Aku sadar saat setelah kamu tahu isi hatiku yang sebenarnya, kamu sebisa mungkin mencoba untuk membuat jarak denganku. Entah siapa yang salah. Akukah yang salah karena terlalu percaya diri dengan apa yang aku harapkan, atau mungkin waktu dan keadaanlah yang salah karena telah mengubah apa yang tadinya biasa saja menjadi sesuatu yang tidak biasa, atau malah kamu yang salah karena telah begitu besar memberikan aku harapan? Aku tak pernah mengerti mengapa kamu bisa menjadi sebenci ini kepadaku. Yang pasti, aku kira mencintaimu bukanlah sebuah kesalahan, haruskah aku meminta maaf kepadamu agar semua bisa kembali seperti sedia kala?
Sadarkah kita memiliki begitu banyak kesamaan, tapi kenapa kamu tak pernah bisa untuk memiliki perasaan yang sama denganku?
Begitu banyak kebetulan yang ada di dunia ini, tapi kenapa semesta tak pernah menciptakan sebuah kebetulan bahwa kamu juga menyukaiku?
Seandainya saja kamu bisa menjadi aku, seandainya saja kamu bisa merasakan apa yang aku rasakan, seandainya saja apa yang kuandaikan ini nyata. Ah... Seandainya saja aku tak banyak berandai-andai tentang kamu seperti ini, mungkin tak akan pernah aku seperih ini.
Dari sekian banyak pilihan, kenapa tak pernah terlintas di kepalamu untuk menjatuhkan hatimu kepadaku? Kamu curang Bella…
Oke… mungkin aku memang harus sadar, bahwa ternyata dua orang yang pernah begitu dekat tidak selamanya akan berakhir menjadi sebuah pasangan.
Aku begitu mengenalmu. Aku tahu kamu adalah orang yang selalu berpegang teguh pada pendirian. Begitu juga denganku, aku yakin kamu juga sudah hafal betul sifat keras kepalaku. Lantas bagaimana seandainya jika kamu tetap berpegang teguh pada pendirianmu untuk tak membalas perasaanku, sedangkan aku sendiri juga selamanya akan keras kepala dengan keinginanku untuk bisa menjadi seseorang yang memilikimu? Apakah kita selamanya akan terus begini? Haruskah seumur hidup aku hanya bisa memimpikanmu? Sedangkan kamu sendiri begitu nyata.
Aku menyayangimu dengan harapan kamu juga bisa menyayangiku. Bukan seperti ini, aku berikan sayangku kepadamu namun sayang, kamu tak pernah bisa untuk membalas kasih sayangku ini.
Selama ini aku mencoba untuk memperbaiki diriku sendiri dengan tujuan agar kamu bisa melihatku di sini. Aku mencoba mengubah apa yang bisa aku ubah agar bisa menjadi orang yang kamu inginkan, agar kamu bisa menerimaku. Namun semuanya seakan tak berarti apa-apa. Entah apalagi yang harus aku lakukan agar kamu bisa kembali menoleh ke arahku seperti saat semuanya masih biasa saja?
Menghabiskan sekian waktu bersama denganmu, entah mengapa aku merasa begitu yakin bahwa kamulah orang yang selama ini aku cari, orang yang kelak akan menjadi pendamping seumur hidupku. Namun sayang, pada akhirnya aku sadar, ternyata kamu bukanlah orang yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk menjadi milikku, kamu hanyalah orang yang ditakdirkan oleh Tuhan hanya untuk melintasi kehidupanku, tidak lebih.
Baiklah… tak apa jika ternyata kita tak berjodoh di kehidupan ini. Tapi di kehidupan kedua nanti, bersediakah kamu untuk menjadi pasanganku, Bella?
*Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi menulis #CintaDalamkata IDNtimes.com
![]() |
| Image by Pixabay.com |
Saya rasa di dunia ini nggak ada orang yang hidupnya ingin selalu bernasib sial, malang dan menyedihkan, kecuali dalam dunia sinetron (karena mereka memang dibayar untuk itu). Orang-orang yang dari awal cerita selalu bernasib malang dan selalu didzolimi oleh orang-orang disekitarnya maka akan mendapatkan kebahagiaannya pada akhir episode. Meskipun semua orang mengharapkan kebahagiaan, tapi entah kenapa hanya sedikit orang yang mau mendapatkan derita terlebih dahulu sebelum ia mendapatkan kebahagiaanya. Padahal teori kebahagian itu jelas : Berakit-rakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Agak klise memang, tapi itulah teori kebahagiaan yang paling klasik dan masih dipercaya hingga sekarang. Intinya, untuk bahagia itu nggak mudah, dibutuhkan sebuah pengorbanan untuk menggapainya.
Setiap orang mungkin mempunyai definisi yang berbeda-beda untuk memaknai sebuah kebahagiaan. Bahkan dalam ranah linimasa twitter sendiri pernah tercipta sebuah hashtag #BahagiaItuSederhana. Di mana dalam taggar tersebut semua orang (yang punya twitter) bebas mendefinisikan bahagia yang paling sederhana itu seperti apa. Mulai dari sekedar bisa BAB rutin setiap pagi, mendapat ucapan selamat pagi dari gebetan, hingga cuma sekedar bisa makan nasi padang setelah sejak lahir tidak pernah makan nasi padang. Semua sah-sah saja. Sekali lagi definisi bahagia bagi setiap orang itu berbeda-beda, lain orang lain pula versinya. Tapi ngomong-ngomong apakah bahagia itu masih akan terlihat sesimple itu jika apa yang menurut kita membuat bahagia ternyata menyedihkan bagi orang lain?
Baiklah, balik lagi. Dari hashtag #BahagiaItuSederhana itu tadi dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan bukan cuma diukur dari materi saja. Orang yang hidupnya jauh dari kata mewah pun bisa bahagia, sebaliknya orang yang punya harta berlebih bisa jadi hidup mereka kurang bahagia. Semua tergantung pada kadar rasa syukur yang dimilki oleh masing-masing orang. Semakin tinggi rasa syukur yang dimiliki, maka orang tersebut akan lebih dekat dengan kebahagiaan.
Mungkin kamu pernah mendengar kalimat : “Masa kecil kurang bahagia”. Kalimat ini pada umumnya diucapkan ketika melihat orang yang bukan anak kecil lagi melakukan sesuatu yang lazimnya hanya dilakukan oleh anak kecil dengan tujuan untuk mempersenang diri sendiri. Selama itu tidak mengganggu kebahagiaan orang lain dan selama kita bisa mempertanggungjawabkan kebahagiaan kita, kenapa tidak?
Kamu juga pasti sering mendengar semboyan “Yang penting happy”. Meskipun bukan tujuan yang paling utama, tapi mendapatkan kebahagian merupakan prioritas penting dalam segala hal. Kita hanya perlu mempertimbangkan : Kira-kira merusak kebahagian orang lain atau tidak apa yang menurut kita bisa membahagiakan diri kita sendiri? Jadi, meskipun korupsi bisa bikin kita bahagia, tapi kalo ternyata berpotensi bikin banyak orang lain menjadi tidak bahagia, kenapa masih saja dilakukan?
Mungkin kamu pernah juga berkhayal untuk menjadi orang lain yang menurut kamu lebih bahagia dari kamu. Atau mungkin sering membanding-bandingkan apa yang kita miliki dengan apa yang dimiliki oleh orang lain. Baiklah… Saya sering. Membayangkan menjadi orang lain ataupun membadingkan apa yang kita miliki dengan kepunyaan orang lain yang menurut kita hidupnya lebih bahagia dari kita mungkin memang nggak dosa. Tapi apapun alasannya, saat kita merasa kurang puas dengan keadaan kita sekarang ini, yang ada kita malah sangat rawan untuk masuk ke dalam golongan orang-orang yang lupa bersyukur. Dan kembali lagi, saat kita kurang bersyukur maka kita akan semakin berpotensi untuk sering merasakan ketidakbahagiaan.
Saya rasa hal ini nggak perlu kita alami kalo seandainya kita tidak terlalu fokus pada apa yang kita inginkan, tapi lebih fokus pada apa yang telah kita miliki. Terlalu banyak keinginan memang nggak salah, tapi sadar atau nggak justru hal inilah yang malah membuat hidup kita selama ini jadi ‘kurang merasa tenteram’. Apa yang kamu miliki saat ini, itulah jatah yang udah Tuhan anugerahkan buat kamu, jadi nikmati dan syukurilah. Toh Tuhan pasti lebih tau kebutuhan hidup seseorang sesuai dengan porsinya. Kalo kamu pengin porsi yang lebih dari yang sekarang, maka berusahalah, bukan cuma memasukannya ke dalam daftar keinginan dan kemudian mengkhayalkannya.
Bahagia adalah harapan semua orang. Itulah mungkin kenapa dalam lagu selamat ulang tahun kita selalu didoakan “Selamat panjang umur dan bahagia”. Padahal kalo dipikir-pikir, panjang umur belum tentu menjamin kebahagiaan seseorang. Konon, orang-orang yang baik matinya lebih cepat dari orang-orang yang semasa hidupnya sering berbuat tidak menyenangkan untuk orang lain. Atau dengan kata lain : Orang yang baik katanya dipanggil sama Tuhan-Nya lebih cepet daripada orang yang nggak baik. Terserah percaya atau tidak?
Ngomong-ngomong, apakah saya sudah bahagia saat ini? Sebuah pertanyaan sederhana yang tidak sengaja terlintas dipikiran saya belum lama ini. Mungkin tidak sengaja pernah terlintas juga dipikiran kamu juga. Namun pertanyaan tersebut seolah-olah menyerupai sebuah jebakan yang justru malah menjebak diri kita sendiri. Saat kita merasa bahwa kita tidak sedang bahagia dengan keadaan kita saat ini, bisa jadi kita sedang tidak bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Sebab, ketika kita kurang bersyukur, apa yang ada di sekitar kita seolah-olah hanya akan terasa lebih mempersulit kita untuk bahagia.
Yang terakhir tapi nggak kalah penting, sesibuk apapun kamu untuk membahagiakan orang lain, jangan sampai kamu lupa untuk bahagiain diri kamu sendiri. Sebab semua orang berhak kok untuk bahagia. Lakukan apapun yang menurutmu bisa membuatmu bahagia tanpa harus menyakiti orang lain. Siapa tau kebahagiaan kamu merupakan kebahagiaan bagi orang lain juga.
*Sebelumnya tulisan ini pernah dipublish di merasabodoh.com
In
Diary,
Heavy Birthday
Pada dasarnya ulang tahun adalah penambahan satu angka pada usia kita sekaligus pengurangan satu tahun masa dalam hidup kita. Entah bagaimana sebaiknya kita menyikapinnya, mesti seneng karena kita masih diberi kesempatan untuk hidup, atau malah mesti sedih karena umur kita bertambah tua dan semakin dekat dengan yang namanya 'tutup usia'.
Bagi sebagian orang berpendapat bahwa hari ulang tahun adalah hal yang wajib untuk dirayakan. Entah apanya yang mesti dirayakan, karena tanpa disadari bahwa sebenernya di balik momen yang dianggap membahagiakan tersebut ada satu hal yang bagi saya cukup menakutkan, yaitu pengurangan masa hidup. Tapi ada juga orang yang berpendapat bahwa hari ulang tahun itu biasa aja, sama seperti hari-hari yang lain, nggak ada yang istimewa. Saya sendiri sih mungkin lebih memilih buat banyak-banyakin bersyukur aja. Masih diberi kesempatan buat hidup dalam keadaan sehat merupakan sebuah hal yang wajib banget buat disyukuri bukan?
Sesuai dengan namanya : ulang tahun, seharusnya sih di hari itu kita berhak diberi kesempatan untuk bisa mengulangi tahun-tahun yang udah pernah kita lewati, setidaknya sehari aja kita bisa memutar kembali tahun-tahun yang kita anggap kurang memuaskan untuk kemudian kita perbaiki, sehingga nggak muncul yang namanya penyesalan di tahun-tahun yang sedang kita jalani sekarang. Hahaha... pengennya sih gitu... Tapi kalo tahunnya diulang-ulang mulu, kapan sampenya? Oke, sekali lagi ulang tahun hanyalah sebuah istilah. Tetap di hari itu nggak ada tahun yang bisa kita ulangi.
Berbicara tentang ulang tahun, biasanya identik dengan makan-makan, kado dan perlakuan istimewa bagi orang yang sedang ulang tahun. Entah siapa yang pertama kali memulainya. Seseorang yang sedang berulang tahun diwajibkan untuk mentraktir teman-temannya, sedangkan teman-temannya yang ditraktir tadi diwajibkan untuk memberi kado kepada yang sedang berulang tahun. Meskipun di hari-hari biasa kita juga sering mentraktir orang lain atau pun diberi kejutan, tapi di hari ulang tahun kedua hal tersebut menjadi lebih berasa spesial. Dan semua itu akan benar-benar disebut spesial ketika kita diceplokin pake telor oleh teman-teman kita. (Tapi sependek ingatan saya, belum pernah sekali pun ulang tahun saya dirayakan dengan acara ceplok-ceplok telor segala oleh teman-teman. Hahaha... mungkin teman-teman saya nggak ada yang rela ngeluarin modal beli telor buat diceplokin ke saya kali yah... Daripada telornya diceplokin ke saya, mending mereka ceplokin sendiri buat dimakan. Hahaha... Atau jangan-jangan selama ini saya memang nggak punya teman sama sekali.... Hahaha...)
Entah mengapa saya merasa semakin usia kita banyak, ulang tahun itu semakin nggak ada artinya. Saya merasa ulang tahun belakangan ini menjadi semakin biasa aja, nggak ada yang spesial, nggak ada kado, nggak ada kejutan, bahkan ucapan selamat ulang tahun paling-paling hanya saya dapatkan dari isteri saya seorang, sisanya paling-paling ucapan selamat berbentuk email spam dari situs-situs jejaring sosial yang saya punya. Karena beberapa tahun belakangan ini memang cuma isteri saya doang orang yang tau hari kelahiran saya. Jadi, semakin sedikit yang ngasih ucapan, maka semakin sedikit juga yang mendoakan saya supaya panjang umur dan bahagia. Dengan begitu, kalo seandainya isteri saya lupa, ya udah... nggak ada orang yang ngucapin apalagi ngedo'ain. Hahaha... Tapi saya yakin sih, ucapan dan doa tulus dari satu orang doang (isteri saya) juga udah cukup buat didengar dan dikabulkan oleh Tuhan. Daripada banyak yang ngedoain dengan doa yang macem-macem nanti Tuhan malah jadi repot dan bingung memilih doa mana duluan yang mesti dikabulkan. Hahaha... dosa nggak yah kalimat saya yang barusan? Astaghfirullahal'adzim...
Di usia saya yang udah seperampat abad lebih ini, saya sih nggak berharap banyak-banyak. Nggak berharap dapet banyak ucapan, kejutan apalagi kado. (Tapi kalo ada yang mau ngasih sih saya terima aja dengan senang hati. Hahaha...) Harapan saya cuma satu : 'Semoga Tuhan memberikan saya dan orang yang saya sayangi serta menyayangi saya diberi kesehatan dan kebahagian selalu', sebab tanpa kesehatan dan kebahagiaan, harapan dan doa saya yang lain nggak akan berarti apa-apa. Sisanya, saya yakin Tuhan lebih hafal semua lafalan doa tulus saya yang hampir setiap hari saya panjatkan kepada-Nya.
In
Komat-Kamit,
Opini
Kemacetan di Jakarta dan Sebagian Kecil Solusinya serta Peran Masyarakat Dalam Mengurangi Kemacetan
Macet, rasanya situasi tersebut sudah tidak aneh lagi bagi para pengguna jalanan di kota-kota besar di Indonesia, termasuk juga di kota Jakarta, kota yang saat ini saya tinggali. Baik pagi, siang maupun sore hari rasanya hampir tak ada bedanya, jalanan selalu penuh sesak oleh kendaraan-kendaraan yang hampir tak bergerak. Dibilang bosan, tentu saja fenomena macet sangat membosankan, tapi mau bagaimana lagi? Ya inilah Jakarta, kota yang terkenal dengan kemacetannya.
Kemacetan tentu saja tidak akan menjadi masalah yang serius jika seandainya tidak memiliki dampak yang negatif serta merugikan banyak pihak. Beberapa dampak nagatif yang saya kutip dari Wikipedia tersebut diantaranya: kerugian waktu, pemborosan energi, meningkatkan polusi udara, meningkatkan stress pengguna jalan, serta mengganggu kelancaran kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran dalam menjalankan tugasnya dan masih banyak lagi dampak negatif lainnya. Pada intinya macet hampir tidak memberikan dampak yang menguntungkan kecuali bagi pedagang asongan yang sering menjajakan dagangannya di tengah-tengah kemacetan.
Macet merupakan masalah yang sangat klasik. Pertama kali saya mendengar istilah macet saja adalah ketika usia Saya masih sangat kecil, yaitu lewat lagu Si Komo Lewat Tol yang dinyanyikan oleh Melisa dan Kak Seto. Lagu tersebut sebenarnya secara tidak sengaja telah memberikan solusi untuk kemacetan, yaitu lewat jalan tol. Namun pada kenyataanya, saat ini jalan tol sudah hampir tak ada bedanya dengan jalan biasa, sama saja macetnya. Dan dari lagu Si Komo Lewat Tol tersebut kita tahu, bahwa ternyata dari dulu macet memang cukup membuat bingung Pak Polisi dan juga orang-orang.
Secara umum, kemacetan terjadi karena adanya ketidakseimbangan antara pertumbuhan kendaraan bermotor yang terus bertambah dibanding dengan daya tampung jalan yang digunakan sebagai sarana untuk berjalan kendaraan-kendaraan tersebut. Ya, bagaimana tidak terjadi penumpukan kendaraan di jalan yang kapasitasnya tidak bertambah sedangkan kendaraan-kendaraan yang melintasi jalan tersebut setiap hari jumlahnya semakin bertambah dan terus bertambah?
Dari penjelasan singkat di atas tadi sebenarnya sudah dapat disimpulkan bahwa untuk mengurangi kemacetan solusinya cuma 2, yaitu: pembatasan volume kendaraan atau menambah sarana jalan. Tapi pada prakteknya penyelesaianya tidaklah sesederhana itu. Solusi-solusi tersebut tidaklah sebegitu mudahnya untuk diimplementasikan di lapangan. Banyak sekali aspek yang menjadi kendala serta tentu akan timbul pro dan kontra dalam pelaksanaannya.
Seperti yang kita ketahui, untuk mengatasi hal ini, pemerintah tidak tinggal diam. Bahkan pemerintah telah mengupayakan berbagai cara agar masalah kemacetan bisa teratasi, mulai dari: pengadaan busway, layanan MRT (Mass Rapid Transit), comutter line, pemberluakuan 3 in 1 pada jam-jam tertentu di beberapa ruas jalan protocol, dan belum lagi wacana tentang pemindahan Ibu Kota Negara ke kota lain yang sampai sekarang solusi-solusi tersebut tampak belum terasa efeknya dalam mengurangi kemacetan yang ada di Jakarta.
Banyak yang beranggapan bahwa kemacetan di Jakarta itu tidak akan pernah terselesaikan. Bisa jadi pendapat tersebut tidak sepenuhnya benar, tapi tidak juga sepenuhnya salah. Pendapat tersebut bisa saja menjadi benar jika kita semua diam saja, tidak memiliki kepedulian serta kesadaran dalam berlalulintas serta tidak berbuat apa-apa untuk mengurangi kemacetan. Saya sendiri yakin bahwa setiap permasalahan yang ada, sesulit apapun itu, jika kita mau mencari dan mau memikirkannya pasti selalu ada jalan keluarnya. Lucunya, kebanyakan orang yang pesimis dengan permasalahan macet di Jakarta tadi justru malah sibuk mencari pihak-pihak yang bisa disalahkan, bukan malah mencari solusi terbaik bagaimana kemcetan tersebut bisa terpecahkan, padahal yang kita butuhkan untuk memecahkan masalah kemacetan ini hanyalah solusi.
Saya yakin setiap orang punya solusi sendiri-sendiri, selama orang tersebut masih memiliki akal sehat. Dan berikut ini adalah beberapa langkah yang menurut Saya mungkin bisa dilakukan untuk membantu mengurangi permasalahan kemacetan lalu lintas yang ada di Jakarta:
1. Memperbaiki pelayanan transportasi umum
Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan seseorang merasa enggan untuk menggunakan kendaraan umum, salah satunya adalah dari segi keamanan dan kenyamanan. Banyak orang yang malas untuk menunggu angkutan umum yang kadang tidak tepat waktu, jalan secara ugal-ugalan, belum lagi mereka harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya serta terus meningkatnya angka kriminalitas di dalam angkutan umum. Ya tentu saja hal ini membuat banyak orang menjadi berpikir dua kali ketika hendak memilih untuk menggunakan transportasi umum.
Sudah selayaknya anjuran pemerintah untuk menggunakan transportasi umum diimbangi dengan peningkatan pelayanan sarana transportasinya, mulai dari segi keamanan, kenyamanan, keteraturan, kedisiplian pengemudinya, ketepatan waktu serta tarifnya yang terjangkau sehingga membuat orang tak lagi perlu berpikir untuk beralih menggunakan kendaraan umum yang pada akhirnya kepadatan lalu lintas yang ditimbulkan oleh banyaknya penggunaan kendaraan pribadi dapat berkurang.
2. Batasi jumlah kendaraan
Banyak yang berpikir bahwa “Kalo ga pengen macet, ya gak usah beli kendaraan”. Oke, pendapat tersebut memang tidak ada salahnya, dengan tidak membeli kendaraan baru mungkin bisa saja kita dapat terhindar dari penumpukan kendaraan bermotor di jalanan, lantas bagaimana dengan nasib produsen kendaraan tersebut?
Saya rasa pembatasan jumlah kendaraan dengan cara mengurangi angka pembelian merupakan hal yang masih sulit untuk dilakukan. Sebenarnya masih ada cara lain yang mungkin dapat dilakukan yang masih ada kaitannya dengan pengendalian jumlah kendaraan agar dapat sesuai dengan daya tampung ruas jalan yang ada. Misalnya dengan membatasi satu nama orang hanya boleh digunakan untuk kepemilikan satu kendaraan, atau satu rumah hanya boleh memilki satu kendaraan roda empat dan satu roda dua, atau mungkin juga dengan cara membatasi umur kendaraan seperti yang sudah dijalankan di beberapa Negara tetangga serta bisa juga dengan sering melakukan penertiban kendaraan-kenadaraan yang tidak dilengkapi dengan surat-surat.
3. Pemanfaatan moda air
Di kota-kota besar di luar negeri sana tidak sedikit yang memanfaatkan kendaraan air yang memanfaatkan moda air sebagai sarana transportasi massal. Di Jakarta sendiri sebenarnya banyak kali atau sungai serta kanal yang mungkin bisa kita manfaatkan sebagai sarana transportasi alternatif. Namun lagi-lagi tentu saja hal ini juga tidak segampang itu, pemerintah perlu melakukan perbaikan serta pembenahan bantaran sungai dan kanal agar bisa digunakan dengan baik sebagai sarana prasarana angkutan umum air serta dapat agar terintegrasi dengan baik yang pada akhirnya dapat mengurangi kemacetan lalu lintas.
Untuk mewujudkan hal ini, memang dibutuhkan dana serta jangka waktu yang tidak sedikit. Semoga saja hal ini bisa untuk dipertimbangkan sebagai solusi jangka panjang mengatasi kemacetan di kota Jakarta.
4. Pengaturan jam kerja, jam sekolah, serta jam perusahaan agar tidak dalam jam yang bersamaan.
Macet kerap terjadi pada jam-jam sibuk, terutama pada jam-jam berangkat sekolah, berangkat kantor serta jam-jam kerja lainnya. Sebab, pada jam-jam tersebut orang-orang yang memiliki aktifitas khususnya yang melakukan perjalanan menggunakan kendaraan akan tumpah ruah ke jalan memadati jalanan yang ada. Untuk mengurangi kemacetan, agaknya hal ini mungkin perlu untuk dikaji ulang agar tidak terjadi kepadatan kendaraan pada jam-jam aktifitas tersebut.
5. Evaluasi putaran (U Turn) dan traffic light (Lampu Merah).
Di sadari atau tidak, putaran (U Turn) di beberapa titik pusat perbelanjaan serta perkantoran sering mengakibatkan penyempitan yang berujung pada kepadatan alur lalu lintas. Keberadaan putaran tersebut memang sangat bermanfaat, namun jika terlalu banyak serta jarak yang terlalu berdekatan tentu saja malah akan menimbulkan kepadatan kendaraan yang melintas. Selain untuk mengurangi potensi kemacetan, evaluasi putaran (U turn) tersebut juga diharapkan dapat mengurangi keberadaaan Polisi Cepek.
Sama halnya dengan keberadaan traffic Light atau yang lebih kita kenal dengan sebutan lampu merah. Umumnya lampu merah berfungsi sebagai pengendali arus lalu lintas, namun di beberapa titik durasi traffic light yang terlalu lama malah menjadi sumber kemacetan dikarenakan terjadinya penumpukan kendaraan. Mungkin ada baiknya durasi traffic light tersebut agar dipertimbangkan kembali.
Dari sekian banyak solusi yang tadi saya uraikan semua itu takkan berarti apa-apa tanpa adanya kerja sama dengan peran masyarakat sebagai pengguna jalan itu sendiri. Sebab yang saya lihat kemacetan itu sendiri kerap terjadi justru karena diakibatkan banyaknya pengguna jalan yang melanggar peraturan lalu lintas. Mulai dari angkot yang ngetem bukan pada tempatnya, penggendara sepeda motor yang suka melawan arus dan putar balik bukan pada tempatnya, mobil yang parkir sembarangan, belum lagi kendaraan-kendaraan yang tidak dilengkapi dengan surat-surat yang masih sering berkeliaran di jalanan yang hanya menambah volume kendaraan di jalanan serta pelangaran-pelanggaran lain yang masih saja sering dilakukan secara massal. Sepertinya terdengar sepele, namun justru karena pelanggaran-pelanggaran sepele itulah justru yang justru berpotensi untuk memperparah kemacetan yang ada.
Beberapa orang pasti pernah melakukan pelanggaran dalam berlalu lintas (seperti menerobos lampu merah, masuk ke jalur busway atau putar balik bukan pada tempatnya, dan lain-lain) dengan alasan: Tidak adanya polisi yang bertugas di lokasi tersebut. Beberapa pengendara yang memang sudah terbiasa tidak tertib tentu saja menganggap hal ini merupakan sebuah kesempatan untuk melanggar peraturan lalu lintas, beberapa orang lagi mungkin cuma ikut-ikutan kendaraan yang ada di depannya yang jelas-jelas salah. Jika hal ini terus dibiarkan, maka keadaan ini akan terus memunculkan kesempatan-kesempatan bagi para pengendara yang tidak tertib untuk terus melakukan pelanggaran.
Di beberapa tempat yang kebetulan sering saya lewati, beberapa petugas terkesan membiarakan para pengendara yang terbukti melakukan pelanggaran. Saya sendiri kurang mengerti, entah memang ada beberapa golongan tertentu yang memang berhak mendapatkan kompensasi bebas dari sanksi, atau memang ada jam-jam tertentu yang memang diperbolehkan untuk melakukan pelanggaran, atau memang ada alasan lain.
Bukankah sudah menjadi kewajiban petugas untuk menindak para pelanggar? Yang pasti kesalahan para pelanggar yang dibiarkan oleh para petugas akan membuat mereka berpikir seolah-olah kesalahan tersebut sudah menjadi sebuah kebenaran. Dan dengan begitu akan membuat mereka menjadi teribiasa dengan pelanggaran-pelanggaran lalu lintas. Mengutip dari pesan Bang Napi yang sudah saya sedikit ubah: “Pelanggaran berlalu lintas terjadi bukan karena adanya niat pengendaranya, tapi karena adanya kesempatan...”. Untuk itulah saya berharap kepada para petugas untuk selalu menindak tegas para pelanggar tersebut.
Pada dasarnya masyarakat bukan takut pada peraturannya, tapi takut pada petugas yang ada. Masyarakat hanya tertib ketika ada petugas, dan ketika tidak ada petugas mereka akan berbuat semaunya di jalanan. Ketika pengguna kendaraan tersebut tidak tertib tentu saja akan mengganggu hak pengendara lain yang pada akhirnya berpotensi memperparah kemacetan, sebaliknya ketika pengendara tersebut tertib dengan peraturan yang ada maka kemungkinan situasi kemacetan akan sedikit berkurang.
Beberapa bulan lalu, tidak sengaja saya menyaksikan sebuah liputan yang menayangkan ide penempatan manekin atau boneka manusia berseragam polisi yang diletakan di tepi jalan dengan tujuan untuk mengantisipasi kecelakaan. Boneka-boneka tersebut secara tidak sengaja telah memberi efek visual kepada setiap pengendara sehingga mereka secara otomastis akan mengurangi kecepatan mereka serta menghindari segala bentuk pelanggaran dalam berlalulintas. Selain ide tersebut cukup unik dan kreatif, nyatanya cara tersebut cukup efektif jika dilihat angka kecelakaan yang ada di lokasi tersebut.
Saya pikir ide tersebut bisa diadopsikan di beberapa jalan di kota Jakarta, terutama di titik-titik yang sering ditemukan pelangaran-pelangaran berlalu lintas. Misalnya di sekitar lokasi lampu merah yang sering ditemui para penerobos lampu merah, di sekitar lokasi putaran yang tidak digunakan sebagai mana mestinya, atau mungkin di sekitar lokasi yang sering digunakan oleh pengendara untuk melawan arus. Dengan adanya manekin-manekin yang menyerupai personil kepolisian lengkap dengan seragam kepolisian, serta helm polisi tersebut diharapkan bisa berfungsi untuk mengurangi jenis-jenis pelanggaran lalu lintas yang sering dilakukan oleh masyarakat.
Terlepas dari pro dan kontra, dengan adanya manekin-manekin mirip polisi tersebut bukan berarti polisi yang beneran bisa bebas dari tugasnya. Ketika ada pengendara yang masih saja nekat melakukan pelanggaran, tentu saja ini menjadi tugas polisi yang beneran untuk segera menindak pelaku pelanggaran tersebut.
Kemacetan bukanlah masalah yang harus di selesaikan oleh pemerintah sendiri ataupun oleh Polisi Lalu Lintas sendiri, tapi masalah kemacetan adalah masalah yang harus kita selesaikan bersama-sama baik oleh pemerintah, petugas maupun masyarakat selaku sebagai pengguna jalan.
Selama ini kita hanya berpikir bahwa untuk mengatasi kemacetan lalu lintas adalah tugas pemerintah. Sungguh sebuah pemikiran yang dangkal. Apappun kebijakan pemerintah terkait untuk mengatasi kemacetan tidak akan artinya apa-apa jika kita sendiri sebagai pengguna jalan tidak turut serta berperan untuk mengatasi kemacetan misalanya dengan taat pada tata tertib lalu lintas yang ada. Hal kecil inilah yang diharapkan bisa merubah sesuatu ketika kita semua mau untuk melakukannya.
Saya sendiri heran, meski pelanggar sering diberi sanksi tegas, namun rasanya sanksi-sanksi tersebut tidak membuat mereka jera. Terbukti hampir hampir setiap hari selalu saja ada pelanggar yang melakukan pelanggaran yang sama. Sebenarnya bagian mananya yang salah? Apakah sanksi yang dijatuhkan masih terbilang ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera atau memang para pelanggarnya yang memang bebal dan susah diatur?
Sebagai pengguna jalanan di Jakarta saya berharap pada Polisi Lalu Lintas yang bertugas untuk selalu menindak tegas setiap pelanggar. Saya rasa, hanya dengan cara tersebut kemacetan dapat sedikit berkurang. Mengingat entah berapa banyak solusi yang dihadirkan oleh pemerintah untuk mengurangi kemacetan namun sampai sekarang hasilnya masih saja nihil.
Banyak orang yang tidak sadar bahwa mereka yang mengeluhkan kemacetan justru diri mereka sendirilah yang menjadi biang kemacetan yang ada di Jakarta. Percuma setiap hari teriak macet jika mereka sendiri tidak tertib dan disiplin dan berkendaraan. Mereka yang tidak mau mengalah, mereka yang tidak menghargai hak pengguna jalan yang lain, dan mereka yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Orang-orang tesebutlah yang menjadi pemicu semakin kronisnya kemacetan yang ada di Jakarta.
Sejitu apapun solusi pemerintah untuk mengatasi kemacetan, hanya akan terdengar sebatas basa-basi, selama semua orang kurang punya kesadaran diri dalam berlalu lintas. Saya yakin tidak sedikit juga orang yang sadar bahwa yang mereka lakukan itu salah, bahwa yang mereka lakukan itu melanggar hak orang lain, dan yang mereka lakukan itu terkadang membahayakan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain, namun tetap saja mereka melakukanya dan seolah-olah telah membudaya. Hal tersebut menandakan bahwa kesadaranpun tidak cukup membuat mereka sadar.
Untuk menanggulangi hal tersebut saya hanya berharap sepenuhnya kepada Ditlantas selaku yang bertugas untuk menyelenggarakan dan membina fungsi lalu lintas kepolisian bekerja sama dengan masyarakat selaku sebagai pengguna jalan untuk dapat meningkatkan kesadaran, kedisiplinan, serta ketaatan dalam berkendara.
*Tulisan ini merupakan versi penuh dari tulisan ini
*Tulisan ini merupakan versi penuh dari tulisan ini
![]() |
| Image by Pixabay.com |
In
Dilombakan,
Komat-Kamit
Solusi Kemacetan Harus Dimulai Dari Kesadaran Masyarakat Dalam Berlalu Lintas
Banyak yang tidak sadar bahwa mereka yang mengeluhkan kemacetan justru diri mereka sendirilah yang menjadi biang kemacetan yang ada di Jakarta. Percuma setiap hari teriak macet dan menuntut solusi kepada pemerintah jika mereka sendiri tidak tertib dan disiplin dalam berkendara. Mereka yang tidak mau mengalah, mereka yang tidak menghargai hak pengguna jalan yang lain, dan mereka yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri. Orang-orang tesebutlah yang menjadi pemicu semakin kronisnya kemacetan yang ada di Jakarta.
Saya yakin banyak orang yang tidak sadar bahwa yang mereka lakukan itu salah, bahwa yang mereka lakukan itu melanggar hak orang lain, dan yang mereka lakukan itu terkadang membahayakan baik bagi dirinya maupun bagi orang lain serta justru malah semakin memperparah kemacetan yang ada. Dalam hal inilah sangat dibutuhkan peran serta masyarakat dalam bentuk kesadaran dalam berlalu lintas.
Selama ini kita hanya berpikir bahwa untuk mengatasi kemacetan lalu lintas adalah tugas pemerintah. Sungguh sebuah pemikiran yang dangkal. Apapun kebijakan pemerintah terkait untuk mengatasi kemacetan tidak akan ada artinya apa-apa jika kita sendiri sebagai pengguna jalan tidak turut serta berperan untuk mengatasi kemacetan, salah satunya adalah dengan cara taat pada tata tertib lalu lintas yang ada. Hal kecil inilah yang diharapkan bisa membawa dampak yang besar ketika kita semua mau untuk melakukannya.
*Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA BLOGGING DITLANTAS PMJ 2015.
*Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA BLOGGING DITLANTAS PMJ 2015.
![]() |
| Image by wim.tmcpoldametro.net |
In
Essay,
Komat-Kamit
Peran
Ada satu pertanyaan yang mungkin terdengar sepele bagi kalian untuk disimak :
Dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji sebenarnya tukang bubur yang udah dapet gelar hajinya ke mana?
Kenapa yang ditayangkan hanya konflik Haji Muhidin doang yang jadi bahan cerita, seolah-olah Haji Muhidinlah yang menjadi tokoh sentralnya? Padahal seperti yang selama ini kalian ketahui (saya sih baru tahu), Haji Muhidin bukanlah seorang yang menjadi tukang bubur. Bagi orang yang suka memikirkan dengan serius hal-hal yang tidak serius seperti saya mungkin akan merasa aneh. Tapi bagi orang yang tidak mengikuti sinetron tersebut dari awal mungkin akan merasa lebih aneh daripada orang yang telah mengikuti sinetron tersebut dari awal. Bingung kan?
Ngomong-ngomong saya sengaja googling untuk mencari keanehan tersebut. Dan akhirnya dari sana saya mendapatkan informasi bahwa telah terjadi adanya ketidaksepahaman antara Mat Solar (pemeran tukang bubur dalam sinetron tersebut) dengan rumah produksi yang menaunginya. Hal inilah yang membuat peran Tukang Bubur yang seharusnya menjadi tokoh sentral harus ‘ditiadakan’. Rasanya mungkin tidak mungkin lagi untuk menghentikan produksi sinetron yang mulai mendapatkan hati dari para pemirsanya kala itu, mau tidak mau sinetron tersebut memang harus terus berlanjut meski dengan cara mengubah jalan ceritanya. Dan seperti yang kalian ketahui, sinetron tersebut sampai sekarang masih terus berjalan dan bahkan ceritanya lebih menarik (bagi mereka yang suka dengan sinetron tersebut) meski tokoh sentralnya sudah hilang.
Di saat yang bersamaan, mendadak saya juga jadi kepikiran dengan orang-orang yang kehadirannya pernah berasa penting pada suatu episode dalam hidup kita yang sekarang mungkin udah nggak penting lagi, orang-orang yang nggak sengaja pernah berpengaruh besar dalam hidup kita yang ternyata hadir cuma sekedar melintasi kehidupan kita. Bisa jadi orang-orang terdekat yang kini udah menjadi musuh, sahabat-sahabat saat sekolah kita dulu, atau mungkin seseorang yang dulu pernah kita cintai tapi nggak pernah sempat untuk kita miliki.
Orang-orang tersebut memang ditakdirkan untuk masuk ke dalam kehidupan kita, mereka bertugas untuk melengkapi sebuah skenario di dalam hidup kita, kehadiran mereka penting, tapi sayang peran mereka cuma sesaat, hanya meninggalkan sisa kenangan, itu pun kalo kita masih sempat untuk mengenangnya. Meski tanpa kehadiran mereka lagi, episode demi episode kehidupan kita harus tetap berlanjut hingga sekarang.
Mungkin ada benarnya kalo kita sebut dunia ini adalah panggung sandiwara. Setiap orang adalah peran utama dalam cerita kehidupannya, sedangkan orang lain adalah lawan mainnya, entah itu sebagai bintang tamu, sebagai peran pembantu atau mungkin cuma sebagai figuran. Begitu juga dengan kita, tentu saja kita pernah dan bahkan sedang berperan di dalam drama orang lain. Hanya saja kita mungkin tidak menyadarinya, bahwa kita telah atau sedang terekam dalam episode kehidupan orang lain.
Dalam cerita sinetron di Indonesia yang sudah-sudah, khususnya untuk sinetron kejar tayang, biasanya tokoh yang sudah tidak ‘terpakai’ lagi akan dibuat meninggal atau sedang pergi ke luar negeri, entah dengan alasan apapun itu. Dan akhirnya munculah tokoh baru yang menggantikan tokoh yang ditiadakan tadi, dan ceritanya pun dirubah tanpa meninggalkan benang merah pada sinetron tersebut. Tentu saja perubahan tersebut tanpa mengurangi sisi menarik dari jalan ceritanya, kadang justru malah sengaja dibuat untuk menambah daya tarik bagi pemirsa setianya. Intinya, skenario yang dibuat nggak mungkin bertujuan untuk merusak jalan cerita, pasti dibuat dengan tujuan agar ceritanya lebih indah.
Dalam kehidupan kita, nggak selamanya skenario yang Tuhan tuliskan selalu sesuai dengan keinginan kita. Tuhan selalu punya rencana-Nya sendiri yang lebih indah yang kadang mungkin berseberangan dengan apa yang telah kita bayangkan. Saat kita merasa nyaman dengan seseorang, baik itu sahabat ataupun pasangan, baik orang yang sudah lama kita kenal ataupun yang baru saja kita kenal, tentu kita akan berharap semoga ini akan bisa untuk selamanya. Namun sayangnya, belum tentu Tuhan juga berkehendak demikian. Bisa saja orang-orang tersebut sudah berada dalam rencana Tuhan untuk segera 'ditiadakan' dari dalam drama kehidupan kita. Meskipun nggak sampe dibuat meninggal oleh Tuhan, tapi apapun namanya dan bagaimanapun caranya, nggak ada orang yang baik-baik saja ketika berpisah dengan orang yang masih kita sayangi.
Sengaja atau nggak, kalian pasti pernah samar-samar mendengar sebuah rumus yang sangat populer dalam dunia perdangdutan di Indonesia. Sebuah rumus yang bernama 'Rumus Dunia' yang pertama kali ditemukan oleh Profesor Rhoma Irama. Rumus tersebut kurang lebih bunyinya : 'Semua harus berpisah'. Yap, rumus tersebut memang terdengar sangat simple, tapi percayalah... dalam prakteknya rumus tersebut lebih rumit dari rumus aljabar, integral, atau bahkan rumus sin cos tan. Berpisah dengan orang yang kita sayangi itu nggak semudah seperti yang kita bayangkan.
Dan satu hal yang saya percayai, bahwa akan selalu ada sosok baru setiap kali kita kehilangan seseorang. Di balik rasa kehilangan tersebut, saya yakin Tuhan telah mempersiapkan pemeran baru yang lebih baik dan dengan rencana yang lebih indah untuk drama kehidupan kita. Meskipun mungkin peran sosok baru tersebut tidak bisa sepenuhnya mampu mengantikan peran sosok yang hilang tadi. Sebab, rasa kehilangan yang telah kita rasakan mungkin bisa saja tertutupi oleh pemeran baru, tapi kenangan bersama pemeran lama tidak mungkin begitu saja bisa terhapuskan. Tapi yakinlah bahwa waktu akan terus berjalan, sesuatu yang cepat atau lambat akan mengajarkanmu buat move on.
Sepanjang ingatan kita, tak terhitung entah berapa banyak sudah orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Ada yang tercatat dalam sejarah hidup kita, ada juga yang cuma sekedar setor muka doang, sehingga lupa tak tercatat dalam credit tittle kehidupan kita.
Sengaja atau nggak, kalian pasti pernah samar-samar mendengar sebuah rumus yang sangat populer dalam dunia perdangdutan di Indonesia. Sebuah rumus yang bernama 'Rumus Dunia' yang pertama kali ditemukan oleh Profesor Rhoma Irama. Rumus tersebut kurang lebih bunyinya : 'Semua harus berpisah'. Yap, rumus tersebut memang terdengar sangat simple, tapi percayalah... dalam prakteknya rumus tersebut lebih rumit dari rumus aljabar, integral, atau bahkan rumus sin cos tan. Berpisah dengan orang yang kita sayangi itu nggak semudah seperti yang kita bayangkan.
Dan satu hal yang saya percayai, bahwa akan selalu ada sosok baru setiap kali kita kehilangan seseorang. Di balik rasa kehilangan tersebut, saya yakin Tuhan telah mempersiapkan pemeran baru yang lebih baik dan dengan rencana yang lebih indah untuk drama kehidupan kita. Meskipun mungkin peran sosok baru tersebut tidak bisa sepenuhnya mampu mengantikan peran sosok yang hilang tadi. Sebab, rasa kehilangan yang telah kita rasakan mungkin bisa saja tertutupi oleh pemeran baru, tapi kenangan bersama pemeran lama tidak mungkin begitu saja bisa terhapuskan. Tapi yakinlah bahwa waktu akan terus berjalan, sesuatu yang cepat atau lambat akan mengajarkanmu buat move on.
Sepanjang ingatan kita, tak terhitung entah berapa banyak sudah orang-orang yang datang dan pergi dalam kehidupan kita. Ada yang tercatat dalam sejarah hidup kita, ada juga yang cuma sekedar setor muka doang, sehingga lupa tak tercatat dalam credit tittle kehidupan kita.
Masih dalam lagu yang sama dengan rumus tadi di atas, mungkin benar sabda dangdut yang mengatakan bahwa : 'Kalo sudah tiada baru terasa... Bahwa kehadirannya sungguh berharga...' Di sini kesannya saya hafal benget sama lagu-lagu dangdut, tapi bodo amatlah. Ambil saja pesan moralnya. Yang pasti, kebanyakan orang kadang susah untuk menghargai kehadiran seseorang ketika dia sedang berada di dekat kita. Kita baru akan sadar dan merasa bahwa orang tersebut begitu penting justru pada saat dia telah jauh dari kita. Untuk itu, hargailah kehadiran orang-orang yang ada di sekitar kita, orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita sebelum sosok tersebut ‘ditiadakan’ oleh Tuhan. Sebab, kita sendiri tak akan pernah tau seperti apa selanjutnya skenario yang udah Tuhan tuliskan untuk peran kita.
Hampir lima tahun sudah saya menjadi pengguna setia jalanan di Jakarta, hampir lima tahun juga saya memaksakan diri untuk menikmati enak nggak enak macetnya kota Jakarta. Ya, sebab rasanya tidak ada cara lain lagi selain menikmatinya ketika kita harus dijejali dengan fenomena macet yang hampir tiap hari terjadi.
Kurang lebih lima kali dalam seminggu saya harus menempuh perjalanan bolak balik dari Ujung Menteng ke Kelapa Gading dengan sepeda motor. Bagi saya itu perjalanan yang cukup lumayan, setidaknya lumayan cukup bikin ketek saya pegel dan pantat panas (terutama ketika terjebak macet). Untuk sekedar informasi buat yang belum tau, jarak antara Ujung Menteng ke Kelapa Gading itu kurang lebih sama seperti jarak dari Kelapa Gading ke Ujung Menteng. Ya kira-kira segitulah jaraknya…
Selain udara yang panas dan juga banjir, macet memang sudah menjadi hal yang lumrah untuk kota yang berjuluk Metropolitan ini. Kemungkinan besar orang malah akan merasa aneh ketika Jakarta bebas dari cuacanya yang panas, dari banjir tahunan dan macet harian. Dari ketiga masalah tadi, sejauh ini cuma macet doang sih yang tidak mengenal musim.
Banyak cara yang dilakukan oleh pengendara sepeda motor untuk menghindari macet, salah satunya adalah dengan cara memotong jalan. Meskipun cara ini dianggap efektif untuk menghindari kemacetan, tapi mungkin banyak yang belum menyadari dampak yang dihasilkan dari para pemotong jalan tersebut. Sebab, bagaimanapun, kalo jalan sering kita potong-potong demikian, lama-lama jalan jadi tambah pendek, dan ujung-ujungnya ya habis juga. Nah, ketika jalan udah habis kita potong-potong, terus kendaraan kita mau lewat mana lagi coba? Teras rumah warga? Emperan toko? Atau lewat selokan yang dipenuhi oleh sampah? Bagaimanapun pada akhirnya tetep macet juga kan?
Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan melalui Jalan Alternatif, yaitu jalan lain dari yang biasanya digunakan, namun tetap dengan tujuan yang sama. Oke, ini terdengar lebih efektif memang dari cara potong-potong jalan, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui bahwa : Fungsi jalan alternatif itu pada kenyataannya bukan untuk menghindari kemacetan, tapi lebih untuk memindahkan kemacetan dari tempat yang biasanya sering macet ke tempat yang biasanya jarang sekali macet. Ya judulnya tetep macet juga kan?
Kemacetan yang terjadi di Jakarta memang tidak lepas dari populasi kendaraan bermotor yang sulit untuk dibatasi, khususnya untuk kendaraan roda dua. Faktanya di setiap gang yang saya lewati, pasti ada saja kendaraan roda dua yang terparkir. Ini baru di gang kecil yang hanya muat untuk dua sepeda motor berpapasan (meski tak jarang setang dengan setang saling mentok), belum di jalan yang agak gedean dikit. Hal ini bisa dilihat di jalanan Jakarta setiap pagi dan sore hari. Rasanya seperti semua orang yang mempunyai motor ngeluarin semua motornya ke jalanan, bahkan yang nggak punya motor juga ikut-ikutan ngeluarin motor dari garasi, tapi nggak tau deh motor siapa (baca=maling).
Dalam menyikapi hal ini, pemerintah tidak tinggal diam. Hingga munculah kebijakan yang menyarankan supaya para pengguna kendaraan pribadi agar beralih ke kendaraan umum. Sebelum saya bekerja di tempat saya sekarang bekerja, terus terang saya sering menggunakan kendaraan umum. Mulai dari angkot, metomini, hingga busway pernah saya coba. Tapi setelah saya pikir-pikir, senyaman apapun naik kendaraan umum, tetap tidak akan senyaman dan seaman naik kendaraan milik kita sendiri. Malahan kalo boleh saya menuduh, selama ini justru kendaraan-kendaraan umum tersebutlah yang jadi biangnya macet (kecuali busway). Mulai dari ngetem bukan pada tempatnya, menaikan serta menurunkan penumpang sembarangan, serta beberapa kendaraan umum yang kebetulan kosong yang berjalan pelan sambil mencari sewa sehingga mengganggu laju kendaraan yang lain. Gimana mereka nggak bikin macet coba?
Belum lagi saat musim hujan seperti yang belum lama ini terjadi, jalanan yang rusak ditambah lagi genangan air akan menghasilkan kombinasi yang pas untuk menambah kemacetan. Baru hujan seharian saja sudah banjir selutut, terus bagaimana kalo hujannya dua hari? Pasti banjirnya jadi dua lutut.
Intinya, sampai saat ini belum ada solusi yang jitu untuk mengurangi kemacetan. Bahkan beberapa polisi yang ditugaskan di jalanan untuk mengurai kemacetanpun tampak tidak begitu menolong. Entah mengapa saya lebih merasa bahwa polisi yang bertugas di pinggir jalan itu lebih terlihat buat nakut-nakutin ketimbang buat bikin merasa aman masyarakat.
Jujur, saya sendiri entah mengapa selalu merasa deg-degan serta gugup ketika melihat petugas saat saya berkendaraan. Padahal saya sendiri sedang tidak melakukan pelanggaran. Mungkin sayanya saja yang terlalu kege-eran atau apa. Takut mendadak petugas tersebut memberhentikan saya lalu mencoba mencari-cari kesalahan saya dan kemudian menilang saya. Yang jelas tentunya bukan saya saja yang mungkin punya rasa ketakutan yang sama seperti saya takut dengan petugas, kamu yang lagi baca tulisan ini juga mungkin termasuk tipe orang yang sama seperti saya.
Jujur, saya sendiri entah mengapa selalu merasa deg-degan serta gugup ketika melihat petugas saat saya berkendaraan. Padahal saya sendiri sedang tidak melakukan pelanggaran. Mungkin sayanya saja yang terlalu kege-eran atau apa. Takut mendadak petugas tersebut memberhentikan saya lalu mencoba mencari-cari kesalahan saya dan kemudian menilang saya. Yang jelas tentunya bukan saya saja yang mungkin punya rasa ketakutan yang sama seperti saya takut dengan petugas, kamu yang lagi baca tulisan ini juga mungkin termasuk tipe orang yang sama seperti saya.
Mungkin kita sudah sering mendengar istilah Polisi Berpakaian Preman, tapi kenapa tidak ada istilah Preman Berpakaian Polisi? Bukankah jika dipikir-pikir di antara keduanya punya sebuah kesamaan? Sama-sama suka minta duit dipinggir jalan. Hingga terlahirlah sebuah slogan bernada satir yang sudah tidak asing lagi dikalangan pengguna jalan raya : Damai itu Gocap.
Tapi tenang, tidak semua polisi tampak menakutkan kok, ada juga polisi yang tidak membuat saya takut saat saya temui di jalan, salah satunya adalah polisi tidur.
Menurut Wikipedia, Polisi tidur atau disebut juga sebagai Alat Pembatas Kecepatan adalah bagian jalan yang ditinggikan berupa tambahan aspal atau semen yang dipasang melintang di jalan untuk pertanda memperlambat laju/kecepatan kendaraan. Jadi selain polisi yang ini, saya anggap sebagai polisi tidak tidur, termasuk bapak-bapak yang sering bediri dipinggir jalan yang menggunakan rompi hijau menyala.
Kadang saya bingung beberapa oknum polisi tidak tidur yang kelakuannya tidak lebih baik dari polisi tidur, bedanya polisi tidur tidak pernah menuntut gaji, sedang polisi tidak tidur, selain menerima gaji, masih sering juga melakukan pungutan liar di jalanan. Preman banget kan? Maaf, bukanya saya pesimis dengan petugas, di sini saya hanya mencoba untuk kritis.
Seperti yang telah saya jelaskan tadi, beberapa polisi memang tampak lebih menakutkan ketimbang preman. Salah satunya adalah fenomena pengendara sepeda motor yang suka malas memakai helm. Agak miris memang, saat melihat beberapa orang yang mengenakan helmnya hanya ketika pada saat tau ada polisi yang bertugas ataupun pada saat ada razia, di luar itu mereka membiarkan kepalanya tanpa helm sambil berkendara.
Saya sendiri sering menemukan orang-orang yang menaruh helmnya di depan selangkangannya (dipangku), padahal dia sendiri sedang mengendarai sepeda motor. Entah apa motivasinya. Padahal seperti yang kita tau, helm itu tempatnya di kepala untuk melindungi organ yang ada di dalamnya terutama otak, bukan untuk melindungi selangkangan, kecuali kalau memang otaknya sudah pindah ke titit.
Helm itu bukanlah sekedar aksesoris belaka. Sejatinya helm itu digunakan untuk melindungi diri kita dari hal-hal yang tidak diinginkan, terutama dari kecelakaan, bukan dari polisi (meskipun pada kenyataannya kehadiran polisi di jalanan terkadang adalah termasuk hal-hal yang tidak kita inginkan ketika kita tidak tertib berlalulintas. Hehehe…).
Banyak orang yang salah kaprah, mereka lebih sayang kepada uang yang mungkin tidak seberapa ketimbang sayang kepada nyawanya sendiri. Padahal jika dipikir-pikir lagi, denda tilang bagi orang yang tidak mengenakan helm itu tidak sebanding dengan akibat yang ditimbulkan seandainya terjadi kecelakaan apalagi jika kecelakaan tersebut menyebabkan cedera pada bagian kepala. Bukankah uang bisa kita cari lagi, sedangkan nyawa setiap orang hanya diberi jatah masing-masing satu orang satu?
Saya jadi ingat kutipan yang saya ambil dari sebuah buku yang pernah saya baca :
“Sebuah kesalahan yang dilakukan berulang-ulang, kalo dibiarkan, lama-lama bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran”.
Salah satu pelanggaran yang paling sering dilakukan oleh pengendara sepeda motor adalah menerobos lampu merah. Jika saya perhatikan kelengkapan berkendaraan mereka sih oke, jaket pake, sepatu pake, helm pake, tapi sayangnya otak mereka kadang tidak dipake. Alasan yang sering mereka gunakan pun cukup klasik : sedang terburu-buru. Tapi seburu-burunya orang yang lagi buru-buru, masa sih ada yang sampe OTAKnya ketinggalan di rumah? Sehingga membuat mereka jadi nggak bisa mikir secara rasional.
Menurut pengamatan saya, segala bentuk pelanggaran memang ada resikonya, namun dari sekian banyak pelanggaran yang paling sering dilakukan, menerobos lampu merah adalah pelanggaran yang paling besar resikonya. Selain membahayakan diri sendiri, hal tersebut juga sangat membahayakan bagi pengguna jalan yang lain. Seburu-burunya saya, saya mencoba untuk tidak melakukan pelanggaran menerobos lampu merah. Setidaknya saya sendiri punya alasan untuk tidak menerobos lampu merah : Saya tidak ingin mati konyol. Cukup hidup saja yang konyol, mati jangan.
Menurut pengamatan saya, segala bentuk pelanggaran memang ada resikonya, namun dari sekian banyak pelanggaran yang paling sering dilakukan, menerobos lampu merah adalah pelanggaran yang paling besar resikonya. Selain membahayakan diri sendiri, hal tersebut juga sangat membahayakan bagi pengguna jalan yang lain. Seburu-burunya saya, saya mencoba untuk tidak melakukan pelanggaran menerobos lampu merah. Setidaknya saya sendiri punya alasan untuk tidak menerobos lampu merah : Saya tidak ingin mati konyol. Cukup hidup saja yang konyol, mati jangan.
Saya sendiri juga sering kesal ketika ada pengendara sepeda motor yang tidak sabar dan membunyikan klakson dengan biadab saat sedang lampu merah. Analoginya seperti saat kita sedang berada di dalam toilet umum dan ada seseorang yang mengetuk dari luar dan teriak-teriak supaya kita cepat keluar, udah jelas-jelas di dalem ada orang kenapa malah digedor-gedor? Siapa yang nggak kesel coba? Kalo sudah waktunya nanti juga kita akan mempersilahkan dia masuk, kenapa mesti digedor-gedor coba? Lagian siapa juga yang betah berlama-lama berada di lampu merah kecuali bencong Priuk?
Banyak juga orang yang mungkin belum tau, bahwa membunyikan klakson dengan biadab di tengah-tengah kemacetan itu merupakan salah satu kegiatan yang mubazir. Percuma. Apakah ketika kita membunyikan klakson berulang-ulang di tengah kemacetan kendaraan yang berada di depan kita lantas dengan segera akan minggir dan mempersilahkan kita untuk lewat duluan, nggak mungkin juga kan?
Hal lainnya yang paling ngeselin lagi adalah ketika kendaraan yang sedang berada di depan kita mendadak berhenti atau mendadak belok seenaknya tanpa memberikan isyarat sebelumnya. Hal ini paling sering biasanya dilakukan oleh Angkot. Mungkin memang benar kata orang bahwa : ‘Hanya Tuhan dan sopir angkot doang yang tau kapan dia akan belok dan kapan dia akan berhenti’.
Saya ingat pengalaman saya beberapa waktu lalu, saya mengendarai sepeda motor tepat di belakang angkot yang melaju dengan kecepatan lumayan. Entah bagaimana caranya mendadak angkot tersebut menghentikan lajunya di tengah jalan untuk menaikan penumpang. Terang saja saya kaget dan reflek langsung menarik tuas rem sekaligus membelokan setang untuk menghindari angkot tersebut. Pengereman mendadak yang saya lakukan mengakibatkan sepeda motor yang saya kendarai kehilangan keseimbangan, akibatnya saya hampir saja bersenggolan dengan kendaraan lain. Beruntung saya tidak sampai kenapa-napa. Tapi lebih beruntung wahai kau supir angkot…!!! Saya tidak punya dan selalu membawa senapan angin kemana-mana.
Dari pengalaman saya tadi, pesan moralnya adalah : Apapun yang terjadi jangan pernah mengikuti kendaraan yang ada di depan kamu, apalagi kalo sudah tau kendaraan tersebut sudah nggak searah”. Pokoknya jangan.
Orang Indonesia merupakan orang yang gemar sekali menonton, entah menonton apapun itu. Terlebih jika yang ditonton itu gratis. Ada orang gila ditonton, ada orang berkelahi ditonton, bahkan ada beberapa orang yang malah suka nonton penonton.
Punya hobi menonton memang tidak salah, tapi ketika hobi tersebut sangat mengganggu hak orang lain ini sih tidak bisa dibiarkan. Mungkin kalian pernah dan sering melihat kerumunan pengguna jalan yang berhenti di jalan untuk melihat apa yang menurut mereka aneh, entah itu kecelakaan, kebakaran, atau apapun itu. Oke, rasa keingintahuan mereka memang tidak bisa disalahkan, tapi akibat dari ulah mereka yang kepo itu nggak sadar malah bikin jalan jadi macet. Kan nyusahin.
Beberapa tahun lalu saya pernah mengalami kecelakaan. Dan bisa ditebak, selang tidak berapa lama kendaraan yang lewat pun mulai berhenti buat nontonin saya jatuh. Awalnya satu, dua kendaraan yang berhenti, lama-lama hampir semua kendaraan yang lewat ikut-ikutan berhenti. Dan ngehenya lagi, dari sekian banyak orang-orang yang menonton tidak ada satupun yang berusaha untuk menolong saya. Bangke. Sakitnya memang tidak seberapa, tapi malu dan keselnya itu yang nggak ilang-ilang.
Beberapa tahun lalu saya pernah mengalami kecelakaan. Dan bisa ditebak, selang tidak berapa lama kendaraan yang lewat pun mulai berhenti buat nontonin saya jatuh. Awalnya satu, dua kendaraan yang berhenti, lama-lama hampir semua kendaraan yang lewat ikut-ikutan berhenti. Dan ngehenya lagi, dari sekian banyak orang-orang yang menonton tidak ada satupun yang berusaha untuk menolong saya. Bangke. Sakitnya memang tidak seberapa, tapi malu dan keselnya itu yang nggak ilang-ilang.
Oke, tidak munafik, saya sendiri bukanlah pengendara sepeda motor yang sempurna. Saya juga masih sering melakukan pelanggaran lalu lintas, sering masuk ke jalur truk tanah, kebut-kebutan, bahkan saya malah sempat beberapa kali kena tilang. Jika dihitung-hitung total saya sudah tiga kali ditilang Polisi.
Tilang pertama terjadi karena saya tidak menyalakan lampu utama di siang hari. Kedua, karena saya melawan arus, dan yang ketiga (mudah-mudahan jadi yang terakhir) saya kembali melawan arus di jalur yang sama.
Pada penilangan yang pertama, saat itu saya belum terbiasa untuk menyalakan lampu pada siang hari. Saya pikir mata saya masih cukup normal untuk melihat dalam keadaan siang bolong di bawah sinar matahari. Saat itu saya memang belum paham maksud dan tujuan menyalakan lampu di siang hari. Tapi ya sudahlah, namanya juga sudah menjadi peraturan, kalo dilanggar ya tetap ditindak. Tanpa bisa ditawar, uang 100 ribu rupiah pun melayang. Entah masuk kantong Negara atau malah masuk kantong pribadi petugas yang menilang saya.
Penilangan yang kedua terjadi sekitar 2013 silam. Terus terang saya masih bingung (lebih tepatnya tidak terima) pada penilangan kali itu. Saya sudah melewati jalur tersebut kurang lebih dari tahun 2012 hingga 2013. Saya sadar bahwa saya telah melawan arus selama satahun belakangan, tapi kenapa polisi yang bertugas di jalur tersebut sering membiarkan kita melawan arus seolah-olah perbuatan tersebut sudah dilegalkan? FYI, saya melawan arus dijalur tersebut tidak sendirian, tapi berjamaah dengan pengendara sepeda motor lain. Saat ditilang saya cuma bisa terima, karena percuma juga berdebat dengan petugas, buang-buang waktu doang. Beruntung kali ini cuma uang Rp 20.000 yang saya ikhlaskan. Lucu juga, ternyata ditilang kali itu nggak jauh beda seperti beli celana dalam di pasar, bisa ditawar sampai kedua belah pihak cocok sama harganya. Dari uang Rp 75.000 yang diminta, akhirnya bisa turun drastis jadi Rp 20.000 doang.
Kejadian tersebut berlalu, dan kembali saya melewati jalur yang sama dengan cara melawan arus lagi. Dan untuk yang kesekian kalinya juga polisi yang bertugas di sana membiarkan perbuatan illegal tersebut. Hingga pada suatu sore di pertengahan Februari 2015 kemarin. Kembali ada seorang petugas yang menghentikan laju kendaraan saya. Seperti biasa polisi tersebut basa-basi dengan pertanyaan standar : "Anda tau kesalahan Anda?" Dalam hati gue menjawab : "Oke, saya tau, tapi apakah bapak juga tau bahwa saya sudah lebih dari 3 tahun melewati jalur ini dengan melawan arus dan kenapa selama itu petugas hampir selalu membiarkan kami?" Belum sempat keluar dari mulut, akhirnya lagi-lagi saya sadar, berdebat dengan polisi itu sama saja debat sama pacar. Percuma.
Pada penilangan yang ketiga tersebut saya sadar sesadar-sadarnya, meskipun kadang-kadang petugas sering khilaf (kadang suka nilang, kadang tidak), melawan arus bukanlah perbuatan yang dibenarkan. Yang namanya salah ya tetap salah. Alasan saya melawan arus mungkin sama seperti alasan yang dipake oleh kebanyakan orang saat melawan arus : Ingin membuat perjalan menjadi lebih singkat, tapi dengan cara yang tidak benar. Padahal, kalo dipikir-pikir bukankah polisi juga suka dengan hal-hal yang singkat? Salah satunya adalah dengan menyingkat-nyingkat pangkat dan istilah, seperti istilah Brigadir Polisi Satu disingkat menjadi Briptu, Brigadir Polisi Dua disingkat menjadi Bripda, hingga istilah komando 'mengerti' cukup disingkat menjadi Siap 69, eh… Siap 86.
Saya rasa melawan arus lalu lintas bukanlah perbuatan yang keren lagi. Agakanya ada satu hal lagi yang jauh lebih keren yang patut dicoba oleh orang-orang yang suka melawan arus, yaitu melawan arus listrik.
Yang saya sayangkan, kenapa polisi lebih sering menjebak kita ketimbang mencegah agar kita tidak berbuat langgar peraturan lalu lintas. Harusnya polisi lebih banyak melakukan tindakan preventif daripada seolah-olah membiarkan kesalahan yang terjadi agar tampak dibenarkan padahal ujung-ujungnya mereka sedang memasang perangkap.
Saat saya menulis bagian yang ini, saya baru saja ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak setengah baya yang juga senasib sepenanggungan dengan saya, menunggu sidang penilangan. Bapak-bapak tersebut terlihat cukup beda daripada orang yang senasib sepenanggungan dengan saya yang lain. Dengan rambut yang terlihat serba putih, gestur yang tampak serba hati-hati, serta volume bicara yang terdengar pelan, dia tampak lebih tua dibanding dengan orang-orang yang berada di ruang sidang, apalagi jika dibandingkan dengan saya. Bedanya jauh.
Proses sidang yang begitu lama dimulai membuat begitu banyak topik yang sempat kami bahas. Mulai dari ditilang di mana? Kenapa bisa di tilang? Tinggal di mana? Hingga pekerjaan. Dari caranya berbicara sepertinya beliau orangnya suka bercanda.
Beliau sempat juga mengetes kesotoyan saya dengan menyuruh saya menebak usianya saat saya menanyakan usia beliau.
“Coba tebak usia saya berapa?’
“Hmm… Sekitar 70 lebih dikit. Bener ga pak?”
“Hampir bener mas… Usia saya sekarang 74 tahun…”
“Hehehe... tapi kok keliatan kayak masih mudaan dikit yah pak”,
“Emang saya keliatan kayak umur berapa mas?”,
“Kayak umur 73 tahun pak. Hehe…”.
Kami pun sama-sama tertawa, seperti layaknya orang yang sudah lama saling mengenal, seperti seorang kakek dan cucunya.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang saya ajukan, saya jadi tau bahwa : Beliau ditilang di daerah Prumpung, Jakarta Timur. Beliau ditilang kerena adanya rambu lalu lintas baru yang melarang untuk belok ke kiri. Beliau juga mengaku bahwa dia sering melintas di jalan tersebut, tapi baru kali itu kena tilang karena tidak tau adanya rambu lalu lintas baru tersebut.
Sebenarnya agak kasian juga, orang se-antik (sesuatu yang menarik yang sudah berusia tua) beliau masih harus bekerja di jalanan, harus berurusan dengan petugas juga gara-gara alasan melanggar rambu lalu lintas yang katanya masih baru itu.
Saat saya tanya pekerjaan, beliau menjawab bahwa dia seorang pensiunan, saat ini dia mempunyai usaha yang mengharuskan dia untuk berkeliaran di jalan menggunakan sepeda motor mengantar-antar barang. Apapun itu, saya salut dengan bapak-bapak tersebut.
“Pak, kalo PNS emang masuk kerjanya mulai jam berapa?”,
“Seharusnya sih mereka mulai duduk di balik meja jam 08.00”,
“Termasuk orang-orang yang di sini juga seharusnya gitu juga ya Pak?’,
Bapak itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Agak miris juga, sidang yang harusnya di mulai pukul 08.00 sampai jam 09.00 kurang masih belum juga dimulai. Entah prosedurnya yang memang begitu atau memang petugasnya yang membelot.
“Sekarang bagaimana warga sipil tidak suka melanggar kalo petugas lembaga yang menangani orang-orang yang melanggar saja berbuat melanggar peraturan seperti demikian ya pak?”,
Lagi-lagi kami tertawa. Lagi-lagi tampak seperti seorang kakek dan cucunya.
Baru-baru ini kita juga dihebohkan dengan maraknya begal-begal yang meresahkan. Sebagai penggendara sepeda motor, terus terang saya merasa resah. Apalagi begal-begal tersebut terkenal kejam dan beraksi tanpa mengenal waktu, baik pagi, sore, siang dan malam. Yang saya khawatirkan adalah kebetulan saya bertemu dengan begal yang antimainstream. Mereka mencegat saya di tengah jalan dengan paksa, membacok motor saya, dan terakhir membawa kabur saya untuk kemudian dijual secara terpisah. Ngeri banget nggak tuh?
Kebetulan belum lama ini juga diberitakan seorang begal tewas dihakimi oleh massa dengan cara dibakar hidup-hidup. Cara yang sama kejamnya seperti yang dilakukan oleh begal yang juga sering menghilangkan nyawa korbannya. Lantas apa yang membuat kita berpikir bahwa orang-orang kalap tersebut tidak lebih buruk dari para begal itu sendiri?
Bukankah sudah seharusnya begal-begal tersebut diserahkan kepada pihak yang berwajib, bukan dihakimi secara beramai-ramai demikian. Bukan apa-apa, masalahnya masa tega sih ngebiarin polisi makan gaji buta? Masa harus kita juga yang selain jadi saksi dan korban, harus juga turun tangan mengadili para pelakunya, lantas tugas para polisi itu selama ini ngapain?
Oke, terakhir, sebagai pengendara sepeda motor yang sering resah, rasanya nggak afdol kalo nggak sekalian bagi-bagi tips buat pengendara sepeda motor lainnya. Dan berikut ini adalah tips berkendaraan roda dua dari saya :
- Sebelum digunakan ada baiknya motor dipanasi. Selain bertujuan meningkatkan performa mesin, memanaskan motor juga bertujuan agar motor tidak basi.
- Lengkapi surat-surat kendaraan. Sadar nggak apa yang pertama kali petugas tanyakan kepada kita ketika mereka melakukan pemeriksaan? Iya betul, SIM dan STNK. Bukan surat cinta, surat nikah, apalagi surat tanah.
- Mengunakan helm (wajib hukumnya), serta jaket, sarung tangan, dan masker (sunah/boleh pake boleh nggak). Saya sendiri menggunakan masker selain bertujuan untuk mengurangi udara kotor yang masuk ke hidung, saya sadar bahwa lubang hidung saya berukuran lebih besar dari pada lubang hidung manusia pada umumnya, saya takut hidung saya mendadak kemasukan spion ataupun knalpot kendaraan yang ada di depan saya.
- Bila di tengah perjalanan anda merasa ngantuk, sebaiknya anda menepi dan beristirahatlah sejenak. Karena yang saya tau mengantuk itu dapat menyebabkan tidur. Akan sangat berbahaya sekali bukan jika anda mendadak tidur saat anda mengendarai sepeda motor?
Sekian sedikit tips dari saya yang tidak wajib diikuti oleh kalian sebagai pengendara sepeda motor.
Bersamaan dengan dipublikasikannya tulisan ini, saat itu juga saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi lagi kesalahan saya. Maaf, bukan saya sok-sokan jadi orang bener, saya hanya ingin sedikit memperbaiki sistem hidup saya yang selama ini saya anggap salah. Kalo hidup kita tidak mengikuti peraturan yang dibuat oleh Tuhan dan manusia, terus kita mau mengikuti peraturan dari siapa lagi coba?





